Hidup adalah proses pembelajaran dan perjuangan yang tak kenal lelah dan menyerah…
Dengan agama hidup menjadi terarah, dengan ilmu hidup menjadi lebih maju dan mudah, serta dengan seni; hidup akan menjadi lebih indah.
Lalu bagaimanakah mengajarkan seni dengan cara yang terarah, mudah dan indah? Ya.., pada postingan istimewa kali ini, Joni Balbo akan berbagi sedikit pengalaman tentang bagaimana mencoba mengupayakan dan menerapkan itu semua dengan cara yang "menyenangkan".
Sekedar untuk dimengerti pengunjung Zibalbogallery; bahwa blog ini dibangun salah satunya dilatar belakangi “konsep Zi”; yaitu semangat belajar dan mencoba mengajarkan pada diri sendiri tentang “bagaimana belajar menjadi baik dan lebih baik lagi?”.
Bukan bermaksud untuk menggurui, namun karena di dunia nyata, Joni berprofesi sebagai pengajar (meski bukanlah guru terfavorit, tapi saya berupaya menyenangkan di tengah-tengah murid-muridku :) jadi mohon dimaklumi bila “suasana kelas” terbawa pada postingan kali ini… :)
Jika beberapa bulan lalu Joni Balbo memosting karya poster kelas 8 (Parade Poster Karya Siswa Spelanta), maka pada edisi “mendidik dan mengajar” kali ini, Joni akan berbagi pengalaman tentang bagaimana cara mengajarkan proses berkesenian (khususnya seni instalasi) untuk para ABG di sekolahan..?
Berikut laporannya…
Jika di antara Anda ada yang berprofesi sebagai pengajar, maka memberi contoh konkrit dan mendemonstrasikan di depan kelas, saat proses pembelajaran berlangsung, adalah cara yang “mengagumkan” dan menyenangkan dalam pandangan murid-murid.
Mendemonstrasikan karya seni instalasi pribadi, memberi contoh yang bersumber dari internet dan menampilkannya lewat media LCD, atau dengan memberikan contoh foto-foto seni instalasi terkini, hingga sampai bagian pokok pelajaran yaitu memberi penjelasan tentang pengertian dan manfaat mempelajari pelajaran yang dimaksud, akan memberikan cakrawala yang luas, bahwa belajar seni “yang baik” adalah yang mampu menyentuh semua lini kehidupan.
Metode selanjutnya yang saya terapkan di kelas adalah dengan membagi tiap kelas menjadi beberapa kelompok (1 kelompok terdiri dari 6 siswa), pertemuan demi pertemuan diupayakan efektif, karena jumlah jam pelajaran seni di sekolah hanya 1 jam / 40 menit untuk tiap minggunya (menyedihkan memang).
Biasanya sebelum pelajaran serius dimulai, saya kadang berbagi pengalaman pribadi, serta berbagi info dan cerita lucu yang didapat dari internet, kadang joke2 konyol dan garingpun menjadi menu warming up dalam proses pembelajaran. Dengan cara seperti ini, saya sangat mengerti bahwa siswa pasti akan merasa senang mendengarkannya (saya bisa bicara seperti ini berdasar pengalaman di kelas ketika melihat ekspresi wajah mereka saat mendengarkan kegagalan saya dalam berkompetisi, apalagi sebuah kemenangan).
Setelah itu semua dirasa cukup, saya kemudian mengharuskan anak-anak untuk berdiskusi di setiap kelompoknya dengan durasi 5-10 menit, hingga akhirnya saya menghampiri masing-masing kelompok dan melakukan share dan brainstorming untuk memperkuat konsep tentang karya yang mereka rencanakan. Memberikan kebebasan mereka memilih tema sesuai dengan selera kelompoknya, serta memberikan kebebasan berpikir sesuai jiwa remaja dengan tidak terlalu “mendekte” adalah bagian upaya menumbuhkan kreativitas “tanpa batas”. Mengajak siswa berpikir krtitis terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar adalah salah satu tujuan dari pembelajaran ini. Dengan cara mengadopsi bimbingan ala skripsi seperti apa yang pernah saya alami di perguruan tinggi, dan mengajarkan bagaimana cara menyusun konsep laporan secara sederhana, hingga proses berkarya sampai mengujikannya di depan penguji merupakan bentuk pertanggung-jawaban dari sebuah proses pembelajaran yang menantang.
Jika sebagian dari Anda pernah menjalani ujian skripsi, kurang lebihnya begitulah cara saya menguji murid-muridku, karena kapasitas mereka sebagai pelajar kelas 9 (kelas 3 SMP), tentu ujian dilakukan tidak “seekstrim” di perguruan tinggi, alias dilakukan secara berkelompok. Di depan guru penguji, masing-masing siswa dari setiap kelompok diminta mempresentasikan proses kreatif hingga demonstrasi dengan ending tanya jawab dan debat pendapat menjadi bagian yang seru di episode ini. Dalam ujian akhir, untuk membuat ujian “benar-benar ujian”, Joni menggundang Mr. Ali Antoni, teman guru dari luar sekaligus berprofesi sebagai seniman dan budayawan yang memang pakar di bidangnya.
Luar biasa anak-anak berpendapat dan memainkan bahasa simbol sesuai dengan perspektifnya, banyak ditemukan siswa-siswi piawai beradu argument dan berpotensi menjadi “seorang ahli di kemudian hari”, sesuai dengan minat dan keahliannya pada mata pelajaran tertentu dan hal ini kadang yang membuatku tecengang, hingga akhirnya sayapun dengan jujur justru banyak “berguru” dari mereka :)
Untuk ukuran pelajar SMP, karya-karya mereka menurutku sudah luar biasa, baik dari segi konsep maupun visualnya.
Seperti apa saja karya mereka? Berikut karya-karya seni instalasi terpilih dari siswa-siswi Spelanta (SMP N 9 Yogyakarta)
Karya Satya CS dari kelas 9D; diilhami dari “runtuhnya” perekonomian Amerika yang mempengaruhi dampak perekonomian global. Karya dengan mengadopsi permainan domino yang berbahan kardus bekas yang dibentuk dan dirangkai menjadi balok-balok berjumlah belasan, mulai dari balok yang berukuiran 25 cm x 25 cm x 10 cm, hingga balok yang berukuran 150 cm X 150 cm x 20 cm. Untuk mendukung konsep perekonomian, maka “disebarkan” uang seribuan hingga ratusan ribu rupiah di antara balok-balok simbol berbagai lambang negara di dunia. Sebagai bagian akhir presentasi agar lebih dramatis, diakhiri dengan demonstrasi karya tersebut dirobohkan dari balok berukuran besar (simbol bendera Amerika) sehingga “menimpa” balok-balok yang lebih kecil di depannya.
Tema pemanasan global paling sering muncul pada karya seni instalasi ala Spelanta kali ini, dengan berbagai visualisasi yang beragam, misalnya karya Andy Setia cs dari 9F yang lebih menyerupai seni patung, dengan membuat globe dari bola plastik dan patung tangan yang sedang menyalakan korek api dan “membakar” bumi. Juga karya dengan konsep lapisan ozon yang berlubang dengan menggunakan dua bola plastik dengan ukuran yang berbeda tampak pada karya Yanwar cs kelas 9B. Ada juga globe tiruan dengan konstruksi rangka kawat yang di dalamnya berisikan balon kemudian pada bagian akhir presentasi dilakukan ritual meledakkan "balon bumi" tersebut dengan pompa angin.
Tema kebakaran hutan juga muncul dari kelas 9C, dengan ending presenstasi karya benar-benar dibakar, yang menggambarkan kasus kebakaran hutan di beberapa daerah di Indonesia.
Pengalaman exotic erupsi gunung Merapi juga menjadi sajian yang menarik pada ujian kali ini, yaitu karya M. Hasbi Cs. dari 9B; dengan membentuk miniatur gunung Merapi dari rangka kawat yang didalamnya terdapat botol kemudian dilapisi bubur koran bekas. Dengan bagian akhir demonstrasi memasukkan cuka kedalam “gunung” yang berisi soda abu, sehingga menimbulkan “erupsi lahar”, simulasi meletusnya gunung Merapi terwakilkan pada karya ini.
Konsep kerusuhan antar suporter sepak bola tampak pada karya Ade Fadil CS. dari kelas 9E. Persepakbolaan Indonesia yang mengalami kemunduran, ditambah sering terjadinya kasus kerusuhan antar suporter saat kompetisi lokal berlangsung. Kerusuhan yang dalam pandangan anak-anak kelas 9E akan dapat menurunkan martabat persepakbolan Nasional di mata dunia divisualisasiakan dengan replika stadion sepak bola. Dengan pendukung konsep menggunakan kelereng yang berwarna warni yang “diletakkan” pada tempat duduk dengan kemiringan tertentu, kemudian dengan demonstrasi membuka batas pagar sehingga terjadi benturan-benturan antar kelereng yang merupakan simbolisasi saat terjadinya kerusuhan antar suporter sepakbola di Indonesia.
Konsep budaya lokal yang mulai pudar akibat pengaruh globalisasi, kesenjangan antara masyarakat miskin dan kaum borju, hingga pencurian budayapun hadir di sini. Salah satu karya tentang keprihatinan "hak paten" divisualisasikan dengan patung kancil yang “membawa batik” dan sedang melompat dan menyeberangi dua negara.
Tema pemilu seperti tampak pada karya Riris Cs. 9E merupakan bentuk “penyindiran” dari para calon legislatif, yang saat pemilu berlangsung begitu gencar tebar pesona. Dengan menggunakan media yang sederhana, yaitu bola plastik yag dicat kuning “ngejreng” dengan bibir merah yang "ndobleh", tiruan kepala yang lebih menyerupai maskot tersebut memakai peci dan dasi, melambangkan caleg yang sedang “mengobral” janji.
Tema keragaman budaya bangsa juga tervisualisasikan di sini, yaitu tampak pada karya kelas 9D, dengan media botol yang diisi air beraneka warna dan dengan ketinggian air yang berbeda, sehingga ketika botol tersebut dipukul menghasilkan nada-nada yang harmonis, yang melambangkan keberagaman budaya Indonesia. Perpaduan antara resonansi dalam ilmu fisika, seni musik, seni rupa dan budayapun berpadu di sini.
Kembali ketema pencemaran udara, namun dengan visualisasi yang unik, terdapat pada karya Hasbi cs kelas 9B, yaitu dengan memasukkan miniatur kota ke dalam aquarium, pada bagian dasar aquarium dihubungkan dengan dua buah selang, satu selang dihubungkan dengan botol berisi air susu dan satunya lagi dihubungkan dengan botol berisikan solar. Pada bagian demonstrasi tampak atraktif sekali. Air yang jernih melambangkan udara yang bersih, munculnya gelembung-gelembung solar dari dasar aquarium kemudian membentuk "lapisan ozon", dan pada bagian akhir, air susu dipompakan sehinggah air dalam aquarium menjadi keruh, sebagai gambaran pencemaran udara di suatu kota tampak benar-benar nyata.
Terpilihnya Obama sebagai presiden keturunan kulit hitam pertama di Amerika juga diangkat dalam karya seni instalasi di Spelanta. Visualisai Obama dari mannequin yang “didandani” ala malaikat, menurut Dealina Cs dari 9A merupakan simbol kesetaraan ras di Amerika.
Juga tema-tema lainnya, misal konsep "masa lalu" dengan visualisasi jam dinding yang di bongkar pasang sehingga jarum jamnya berjalan berlawanan. Juga tema simulasi gempa bumi di Jogja, kasus lumpur Lapindo, kasus kebocoran kunci jawaban UAS di beberapa sekolah di daerah, suap-menyuap dalam kampanye, korupsi hingga perang Israel & Palestina yang pernah berkecamuk tak luput dari tema seni instalasi di Spelanta. Karena keterbatasan gallery ini, beberapa dokumentasi dari karya tersebut tidak dipublikasikan di sini, kiranya karya di atas cukup mewakili dari tema postingan “mendidik dan mengajar” kali ini. Semoga..
Sebagai penutup; melalui Zibalbogallery; dicipta Pencipta, untuk mencipta, saya atas nama Guru mengucapkan salut dan bangga pada siswa Spelanta… BRAVO SPELANTA! :-D
Demikian pengalaman mengajarkan seni instalasi ala Spelanta yang dapat Joni bagikan, kritik sekaligus saran sangat diharapkan, dan semoga apa yang sedikit ini bermanfaat dan memberi inspirasi bagi pengajar seni dan pendidikan seni tingkat menengah di negeri ini…. Amien
Best Regards,
Joni Balbo
Minggu, 07 Juni 2009
Seni Instalasi di Spelanta
Sabtu, 14 Maret 2009
Parade Poster Karya Siswa SMP N 9 Yogyakarta
Di dunia maya, mengikuti berbagai kompetisi desain poster dan logo serta mengelola Zibalbogallery, bagi saya adalah aktifitas sampingan untuk terus mengasah kreativitas, tantangan, sekaligus hiburan yang menyenangkan. Namun di dunia nyata; provesiku sebenarnya adalah menjadi pengajar, untuk mata pelajaran Seni Rupa dan Desain di SMPN 9 Kotagede Yogyakarta, salah satu sekolah favorit di kota pelajar & kota budaya.
Beberapa minggu lalu, saya mengajarkan murid-murid tentang pembuatan poster dengan berbagai tema, teknik dan media; baik digital, manual serta collase. Sebagai bentuk apresiasi saya terhadap hasil kerja keras dari semangat belajar mereka, pada postingan istimewa kali ini, saya publikasikan karya-karya terbaik anak didik kelas 8 dari Kota Perak Jogja di Zibalbogallery dicipta Pencipta untuk mencipta…





Meskipun belum sepenuhnya “sempurna”, sebagai gurunya saya sangat bangga atas hasil kreativitas karya poster anak-anak Spelanta (SMPN 9 Yogyakarta).
Bagi Anda pengunjung Zibalbogallery, dengan hormat saya meminta apresiasi dari Anda semua, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kemajuan bagi saya pribadi dan anak didik saya tentunya. Terimakasih atas atensi, interpretasi, koreksi dan apresiasinya…
Best Regards,
Joni Balbo
Minggu, 02 November 2008
LogoMANIax

Postingan ini merupakan renungan pribadi yang didedikasikan untuk sesama pemburu dan penggila kompetisi desain logo khususnya para pemula. Untuk mendukung isi postingan, sengaja Joni Balbo simbolkan dengan mendesain dan meminjam peristiwa proses pembuahan dalam rahim. Metafora tersebut sepertinya tidaklah berlebihan dan cukup representative dengan maksud judul logoMANIax dari Joni Balbo.
Di dalam rahim, ketika ribuan sel sperma telah ditanamkan oleh tuannya, dia akan berenang-renang berlomba-lomba ingin menjadi yang terdepan untuk dapat membuahi sel telur. Jika kita kontekskan dalam sebuah kompetisi desain logo, peserta layaknya sebuah "mani" yang punya ambisi dan mimpi untuk menjadi best of the best diantara ribuan mani (kompetitor) lainnya. Sedangkan kata LogoMANIax disini hanyalah istilahku untuk menganalogikan kedua konsep tersebut dan akhiran x pada kata logomaniax untuk membedakan istilah logomania dalam kamusnya Mr. Google yang berarti dorongan suka berbicara. Namun, dalam kamus kreatif Zibalbogallery; LogoMANIax berarti benar-benar tergila-gila pada sebuah kompetisi yang bernama "kompetisi desain logo". Jika anda merasa bagian dari logoMANIax, silahkan menelaah isi postingan ini.
Dari pengalaman mengikuti kompetisi desain logo, chatting & sharing tentang logo, serta blogwalking ke sesama logoMANIax memberi inspirasi untuk menulis tema postingan ini. Mungkin curahan dari seorang Joni Balbo dapat mewakili logoMANIax lainnya walaupun tidak sepenuhnya tentunya. Small is beautiful, "Simplicity is the Ultimate Sophistication". Dalam budaya kontemporer seorang pakar semiotika Charles Sanders Pierce mengatakan bahwa alam ini dipenuhi dengan tanda. Tanda adalah simbol yang menyediakan sekian banyak pengertian dan pemaknaan, beberapa tanda tersebut juga tercermin dalam sebuah logo. Sebuah simbol estetik penuh dengan doa, makna dan cita-cita…
Apa yang membuat Joni Balbo tergila-gila dengan sebuah seni grafis kecil mungil yang bermakna mendalam bernama logo? dalam konteks kompetisi desain logo, tidak hanya panitia penyelenggara yang menjanjikan hadiah dari 1 juta bahkan sampai 100 juta rupiah, sebuah angka yang sangat fantastis bagi saya tentunya, tetapi mengikuti kompetisi desain logo, adrenalien kreativitas seperti panas membara dan terpacu untuk berpikir kreatif, membuat hidup lebih hidup, bermakna dan berwarna. Syukur-syukur bisa tembus dan memenangkan kompetisi bergengsi, sebuah pengalaman hidup dan perjalanan karier yang tak ternilai harganya…
Satu tahun terakhir instansi baik negeri maupun swasta banyak yang berganti wajah dengan mengganti logonya, departemen/corporate satu mempengaruhi lainnya, sehingga seolah-olah trend ganti corporate identity melalui sayembara merupakan pilihan alternatif yang dilalui, hal ini menunjukkan pergeseran budaya baik logo pemerintahan maupun swasta yang berbau jadul mulai mengikuti perkembangan zaman dan mempunyai wawasan kedepan. Kondisi demikian tentu menjadi ladang dan kesempatan emas bagi kreator baik amatir maupun professional untuk unjuk gigi dan larut didalamnya.
Sebagai pemula di dunia kompetisi perlogoan Indonesia, Joni Balbo masih ingat persis dari percakapan tanggapan di YM dengan seorang guru logo bernama Ecodezign; “ambisi & mimpi untuk menaklukkan kompetisi logo tak ubahnya ingin menuju suatu tempat, kita tentu perlu “wahana” untuk menuju kesana, mengendarai sebuah mobil mewahpun tentu dibutuhkan bahan bakar yang berkualitas agar mampu meluncur dengan kencang serta kemampuan menyetir yang lihai pula tentunya”. Memang jika kita kontekskan dengan kompetisi logo, faktor X (keberuntungan), subyektifitas dari seorang juri sangatlah besar.
Jonipun masih ingat kekurang setujuan dari seorang Ecodezign terhadap kompetisi desain logo khususnya corporate identity, karena “untuk membuat corporate identity yang benar-benar ideal tentu seorang kreator harus tahu denyut nadi dapur dari perusahaan tersebut, jadi tidak hanya mendesain dengan dasar dari brief yang diberikan oleh panitia. Lain cerita dengan logo event yang sekali pakai ya sudah logo itu usianya berakhir. Corporate identity adalah logo long life...” setelah dikaji Joni Balbo-pun ikut makmum. Namun di lain sisi jika logo-logo dikerjakan oleh agency logo ternama tentu tidak akan memberi peluang bagi desainer grafis muda untuk turut ambil bagian didalamnya.
Sayembara desain logo, sebuah kesempatan bagi desainer grafis untuk mempertaruhkan nasibnya menjadi yang terdepan dan yang paling beruntung. LogoMANIax tak ubahnya dengan ribuan sel mani yang berlomba-lomba ingin menjadi yang terdepan dengan segala daya dan upaya agar dapat bersaing dengan logoMANIax lainnya untuk dapat memenangkan “tender” dan membuahi “sel telur”.
Sebagai logoMANIax apalagi pemula, kita bukan hanya bermimpi muluk-muluk untuk menjadi pemenang, tetapi hal yang wajib ditanamkan dalam jiwa adalah kita harus siap dan tahan banting untuk menerima kekalahan. Juga harus selalu sabar ketika menanti pengumuman pemenang yang dipastikan molor dari jadwal yang direncanakan panitia, dan sepertinya hal ini sudah menjadi budaya dari bangsa ini, belum lagi ketika menemukan beberapa panitia yang tidak professional, bahkan "panitia palsu" sehingga seolah-olah sebagai logoMANIax menjadi bahan permainan. Tentu sebelum mengikuti kompetisi logoMANIax harus benar-benar selektif memilih kompetisi mana yang layak diikuti dan wajib dihindari. Didalam kompetisi logoMANIax juga harus berpikir positif dan berusaha bijaksana; dengan kekalahan itu sebagai tolak ukur agar selalu mengasah tombak kreativitas agar desainnya semakin baik dan lebih baik lagi. Yang menjadi catatan disini tentunya bukan persoalan kemahiran mendesain logo dengan menggunakan aplikasi software desain tertentu tetapi yang jauh lebih penting adalah strategi, orisinalitas, keunikan serta makna, visi misi dan filosofi yang menyelimutinya.
Dari sisi penjurian, pengalaman estetik dan faktor subyektifitas juri berpengaruh besar, dalam beberapa kasus yang Joni Balbo ikuti, hanya sedikit penjurian yang sifatnya terbuka, memang kekuasaan tertinggi ada pada penyelenggara dan tangan juri tentunya. Namun menjadi masalah ketika desain pemenang pilihan para juri bagi sebagian besar logoMANIax sangatlah mengecewakan, disini kredibilitas juri menjadi taruhan tentunya. Hal tersebut mungkin ceritanya akan lain; seandainya panitia mempublikasikan usulan desain logo yang masuk ke meja panitia di web penyelenggara, ini menjadi hal penting bagi penjurian yang fair sekaligus pembelajaran bagi logoMANIax itu sendiri. Meski logoMANIax tidak memiliki hak pilih, tetapi paling tidak menjadi tahu sejauh mana perkembangan kemajuan dan keragaman desain-desain anak negeri terkini. Memang nantinya eksklusifitas dalam awarding untuk sebuah kompetisi disini seolah-olah menjadi berkurang serta lagi-lagi kredibilitas penjurian menjadi barang yang mahal.
Dari pengalaman kompetisi yang Joni Balbo lalui untuk membuat desain logo yang berkualitas, studi kasus terhadap target marketing/target audiens untuk corporate yang dilogokan wajib dilakukan, hal ini untuk menciptakan logo yang benar2 dapat mewakili branding yang dilogokan. Selain studi kasus tentu logoMANIax juga harus tahu perkembangan logo terkini, dan jangan sampai logo yang dirancang ternyata sudah ada yang menggunakannya, tentu keunikan dari sebuah logo menjadi hilang. Memang untuk mengetahui hal tersebut, logoMANIax perlu referensi yang cukup, sedangkan referensi buku tentang logo-logo dalam negeri sangatlah minim bahkan mungkin tidak ada, jika ada yang dipajang di rak toko-toko buku bergengsi berupa buku-buku import yang harganya selangit. Sebagai alternatif yang menjadi rujukan logoMANIax adalah situs logo luar negeri yang terkenal seperti rajasandu, logopond, logolounge dan sebagainya. Miskinnya buku logo menunjukkan harga logo saat ini sangatlah mahal, mungkin Anda masih ingat berapa harga logo PT. P yang konon mencapai USD 350.000 atau sekitar 3,5 milyar (ada gosip didiskon jadi USD 250.000 saja) yang dibuat oleh Landor, branding company luar negeri. Wuih angka yang sangat fantastis untuk ukuran kita. Namun menjadi ironis ketika Joni Balbo mengikuti sebuah seminar di Universitas Swasta di Jogja dimana seorang pembicara terkenal menunjukkan gambar logo yang mirip dengan logo PT.P sudah ada sejak tahun 70an dan digunakan untuk sebuah logo angkutan di Jakarta (meski tidak sama persis bentuknya) wah sepertinya Joni Balbo perlu mengecek kenyataannya di lapangan…
Melihat miskinnya buku perlogoan dalam negeri, dengan hadirnya blog dari para desainer / logoMANIax yang akhir-akhir ini terlihat mulai bermunculan, menjadikan iklim yang kondusif dan masing-masing bisa mengambil pembelajaran yang berharga, bagi yang punya blog; tentu desain di blog pribadinya menjadi ajang penjurian yang benar-benar fair dan bisa mengambil hikmah dari setiap kritikan yang dilontarkan pengunjung dan logoMANIax lainnya. Bagi pengunjung itu sendiri juga dapat belajar "menjadi juri", tentu saja sesuai dengan sudut pandang pengalaman estetis pribadinya. Selain itu hadirnya blog desain logo tentu menjadi media rujukan pembelajaran alternatif terutama logoMANIax yang tidak pernah mengenyam pendidikan perlogoan secara formal. Sekedar flashback jika kita mencoba menengok dan berpikir rasio dengan melihat kuantitas logoMANIax yang mengikuti sayembara desain Logo BEI (Bursa Efek Indonesia) atau ISL (Indonesia Super League 2008) hampir mencapai seribu, jika 1 persen dari logoMANIax tersebut mau menyempatkan membuat blog dan mempublikasikan desainnya, tentu kekayaan dari desainer Indonesia akan semakin terdeteksi sekaligus sebagai tolak ukur perkembangan dunia perlogoan Indonesia. Kehadiran blog logo tersebut tentunya menjadi tolak ukur bagi logoMANIax pemula khususnya sebelum ikut berenang berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan. Tapi Joni Balbo disini berpikir; mungkin kesibukan dan keengganan menjadi alasan utama, hal ini juga bisa dimaklumi mengingat di era layar sebuah ide dan masalah hak cipta adalah barang yang mahal, sekaligus melanglang buana di dunia maya 2 sisi menjadi taruhan tentunya, namun dibalik itu popularitas dan persahabatan dari sesama logoMANIax secara tidak langsung menjadi penggantinya…
Terakhir… satu hal yang pasti, bahwa jodoh, rejeki, menang kalah segala sesuatunya sudah ada yang mengatur, tapi "dia" tidak akan pernah datang jika kita tak pernah mencarinya… Selamat berjuang kawan LogoMANIax, semoga rejeki dari Allah SWT selalu terlimpah pada kita semua… Amin
Mungkin ada pemahaman yang keliru untuk uneg-uneg ini, atau Anda ingin melengkapi sesuai dengan pengalaman Anda? masukan dari Anda menjadi pembelajaran berharga bagi Joni Balbo pribadi, LogoMANIax lainnya, pengunjung ZIbalbogallery dan pantia penyelenggara, semoga...
